kaukecup keningku
perempuanku
malam berwajah lusuh
dan ini lelaki hampir
terpapar ajal
di pelukanmu
sebaris cahaya berwarna
perunggu
nuruni punggung malam
diam-diam
bikin ini lampu lamur
puisi tersesat
setelah dini hari
angan menggeligi
hening bebukit
angin mengiris pipi
dan resah tergelincir
dari ujung jari
pagi memburu lelaki
bernafas asap cengkih
jangan kau ganggu
ia yang letih itu
sedang melamunkan pagi yang jatuh