Sunday, June 3, 2007

Walsa Picisan

Gemerisik angin petang menarikan ilalang
begitu sembunyi padang rumput. Kumencintamu.
Sekantuk pelukis luput menumpahkan warna
rimbun pancawarna pada mata seekor singa lapar.

Sembari menjura padamu dengan lirih kuberkata:
"Aku hanya seorang penata bunga di taman".
"Usah berharap kuhadiahkan sekeranjang buah tangan".

Kita membilang jatuhnya daun-daun musim kering
di luar jendela kamar. Kita sisihkan daun-daun yang rapuh.
Kita bersihkan pekarangan dari semak perdu.
Dan kita siangkan rumput-rumput sembari melepas lelah
di bawah rerindang pohon berbuah.

Aku memasak nasi dan menjerang air. Kuganti popok bayi
yang kuyup. Kubiarkan kau terlelap seusai penat
mengutuk kota dan cucian yang menumpuk.
Sejenak kusempatkan mengucap kata mesra
seusai matari beranjak turun dan merebahkan maknanya
di tubir pembaringan.

Bibirmu kelu dan lidahmu beku. Kita telah sama tahu.
Cinta serupa kata terakhir yang diucapkan seekor menjangan
di tubir mulut singa. Senyumpun saling tersungging.
Tubuh kita hening berdekapan. Kurasakan udara pagi
menyelinap dini dari desah nafasmu.
Asap berwarna ungu begitu luruh tembakau hingga ke abu.
Segigil jam tiga pagi sajak-sajakku kembali terlahir piatu.

Friday, June 1, 2007

Setelah Matahari Terbit Bulan Mei

demikian langit berwarna sembab
di antara gegas gerimis
kusebut namamu
bergayut dahan Akasia
tanganku melambai
selesu payung serasi
wajahmu kuyup
kau tak menyambut
narasi sehabis basah

wajahmu menusuk dalam
sebab mataku gemetar
menatap tubuh hening:
angin lamur yang gaib
walsa terlantun membentur ruang
memantul ajaib di antara hitam alismu
empat mata kembali berpapasan
di bawah langit bulan Mei
daun kering ke rapuh
terjatuh di letih kaki
wajahmu lalu surut

menyambut hembus cendawan
berwarna ungu
asap menggayut kuning muram:
angin bertuba
terabuk hitam pahit empedu
meracuni sekujur udara
burung-burung tersesat
atap gedung-gedung terbakar

matahari sekarat di atas kepala
cahaya lalu rebah.
berkilat liar meluncur:
salak jutaan petasan
riuh simbal pecah
asap kerikil arang batu
bercampur harum daging terpanggang

jarum runcing pipih
duri merayapi
mata berasap
menggenang merah:
mata danau: menyalang!
berkati tebal tameng kristal
gada berat melemparkan
sekujur tubuh biru melebam
di beku trotoar
nanah anyir meletus
lengket di sekitar wajah
darah hitam menggenang
di jalan-jalan

malaikatku-malaikatku
harum bunga bangkai kamboja
senyum menatap tubuh-tubuh terkapar

angin menyelinap lepas
di antara lengan dan popor senapan
hujan tombak hingga ke ajal
begitu kusebut namamu
suara lirih
menyampaikan pesan
sekeliling ricuh
demikian serasa kehilangan

meniru anjing terluka merah saga
warna kubangan air
suara desir angin bergesek denting logam
di antara remang kantuk nafas:
tubuhku tak berkutik: bisu
malaikatku gemetar membasuh rumput
badanku kuyup penuh luka
mengganti pakaian koyak berdebu
dengan baju dedaunan
sembari mengucap:
"selamat datang di pembaringan"

indahnya bunga dan asap kematian
kutahu kita tak sempat bersua
di bawah rindang Akasia
kutahu kau tak kehilangan

catatan:
(untuk Elang dan ketiga rekannya)