demikian langit berwarna sembab
di antara gegas gerimis
kusebut namamu
bergayut dahan Akasia
tanganku melambai
selesu payung serasi
wajahmu kuyup
kau tak menyambut
narasi sehabis basah
wajahmu menusuk dalam
sebab mataku gemetar
menatap tubuh hening:
angin lamur yang gaib
walsa terlantun membentur ruang
memantul ajaib di antara hitam alismu
empat mata kembali berpapasan
di bawah langit bulan Mei
daun kering ke rapuh
terjatuh di letih kaki
wajahmu lalu surut
menyambut hembus cendawan
berwarna ungu
asap menggayut kuning muram:
angin bertuba
terabuk hitam pahit empedu
meracuni sekujur udara
burung-burung tersesat
atap gedung-gedung terbakar
matahari sekarat di atas kepala
cahaya lalu rebah.
berkilat liar meluncur:
salak jutaan petasan
riuh simbal pecah
asap kerikil arang batu
bercampur harum daging terpanggang
jarum runcing pipih
duri merayapi
mata berasap
menggenang merah:
mata danau: menyalang!
berkati tebal tameng kristal
gada berat melemparkan
sekujur tubuh biru melebam
di beku trotoar
nanah anyir meletus
lengket di sekitar wajah
darah hitam menggenang
di jalan-jalan
malaikatku-malaikatku
harum bunga bangkai kamboja
senyum menatap tubuh-tubuh terkapar
angin menyelinap lepas
di antara lengan dan popor senapan
hujan tombak hingga ke ajal
begitu kusebut namamu
suara lirih
menyampaikan pesan
sekeliling ricuh
demikian serasa kehilangan
meniru anjing terluka merah saga
warna kubangan air
suara desir angin bergesek denting logam
di antara remang kantuk nafas:
tubuhku tak berkutik: bisu
malaikatku gemetar membasuh rumput
badanku kuyup penuh luka
mengganti pakaian koyak berdebu
dengan baju dedaunan
sembari mengucap:
"selamat datang di pembaringan"
indahnya bunga dan asap kematian
kutahu kita tak sempat bersua
di bawah rindang Akasia
kutahu kau tak kehilangan
catatan:
(untuk Elang dan ketiga rekannya)