begitu sembunyi padang rumput. Kumencintamu.
Sekantuk pelukis luput menumpahkan warna
rimbun pancawarna pada mata seekor singa lapar.
Sembari menjura padamu dengan lirih kuberkata:
"Aku hanya seorang penata bunga di taman".
"Usah berharap kuhadiahkan sekeranjang buah tangan".
Kita membilang jatuhnya daun-daun musim kering
di luar jendela kamar. Kita sisihkan daun-daun yang rapuh.
Kita bersihkan pekarangan dari semak perdu.
Dan kita siangkan rumput-rumput sembari melepas lelah
di bawah rerindang pohon berbuah.
Aku memasak nasi dan menjerang air. Kuganti popok bayi
yang kuyup. Kubiarkan kau terlelap seusai penat
mengutuk kota dan cucian yang menumpuk.
Sejenak kusempatkan mengucap kata mesra
seusai matari beranjak turun dan merebahkan maknanya
di tubir pembaringan.
Bibirmu kelu dan lidahmu beku. Kita telah sama tahu.
Cinta serupa kata terakhir yang diucapkan seekor menjangan
di tubir mulut singa. Senyumpun saling tersungging.
Tubuh kita hening berdekapan. Kurasakan udara pagi
menyelinap dini dari desah nafasmu.
Asap berwarna ungu begitu luruh tembakau hingga ke abu.
Segigil jam tiga pagi sajak-sajakku kembali terlahir piatu.
"Aku hanya seorang penata bunga di taman".
"Usah berharap kuhadiahkan sekeranjang buah tangan".
Kita membilang jatuhnya daun-daun musim kering
di luar jendela kamar. Kita sisihkan daun-daun yang rapuh.
Kita bersihkan pekarangan dari semak perdu.
Dan kita siangkan rumput-rumput sembari melepas lelah
di bawah rerindang pohon berbuah.
Aku memasak nasi dan menjerang air. Kuganti popok bayi
yang kuyup. Kubiarkan kau terlelap seusai penat
mengutuk kota dan cucian yang menumpuk.
Sejenak kusempatkan mengucap kata mesra
seusai matari beranjak turun dan merebahkan maknanya
di tubir pembaringan.
Bibirmu kelu dan lidahmu beku. Kita telah sama tahu.
Cinta serupa kata terakhir yang diucapkan seekor menjangan
di tubir mulut singa. Senyumpun saling tersungging.
Tubuh kita hening berdekapan. Kurasakan udara pagi
menyelinap dini dari desah nafasmu.
Asap berwarna ungu begitu luruh tembakau hingga ke abu.
Segigil jam tiga pagi sajak-sajakku kembali terlahir piatu.