Saturday, October 6, 2012

Aksara Pertama

ada perih tak sempat
kutidurkan
sebab runcing jam menyalib
sekujur tubuhku
dengan sayat yang dalam
dari mana mesti kumulai
awal halaman
gundah dan gelisah
selalu datang saat malam

dan aku ragu menuliskannya
dengan terang
benderang seperti pijar lampu
cuma hati dirundung gelap
menjemput aksara yang datang
hanya mampu kuramu
dan kutulis
dengan tinta
bulir padi keringat
dan lamun yang jauh

Sampai Larut

separas putih terulur
mengajak diri berjalan
menuai denyar sampai larut
tapi pena tertahan
suara lengking azan subuh
bercak ungu tumpah
merayapi seluruh wajah
gemetar jemariku mengusap
ini hangat suam pipi
keringat menggeliat sampai jauh
aku tatap langit kamar
pena melangkah
namun arah penyap di sini

Derap Malam

bila wajahku dan wajahmu
saling memandang
di depan cermin
aku lupa siapa diriku
kubiarkan saja malam
tidurkan dirimu
yang telanjang
dengan tangan gemetar
ingin menyentuhmu
kakiku melangkah ragu
kau serapahi diriku malu mendekat
sedang tanganmu menggapai celamitan

sajak luntur oleh liur
meninggalkan jejak coklat
di atas kain seprai
meruap dosa sampai mengendap
kuterjemahkan perih cubitmu
kau cabut serumpun bulu lenganku
hingga dinding berkulit pucat
wangi bedak bercampur kuyub keningmu
meracuni sekujur kamar

segurat kurus dari dalam diriku
sesekali termenung ia di gigir dipan
kupijat pundaknya sampai letih urat angan
kusimpan gelisah tak lagi mengaduh
sampai musim pun malas menginap
di ujung penaku
tiba-tiba padam lampu
kugigit kuat rekah bibirmu
malam cepat berderap
memutih separuh wajahmu

sekabut cengkih mengaburkan pandang
pintu lekas berderit
angin berebut masuk
seorang diri kembali berangkat jauh
karib asing sering bertamu
aku rindu sangat dirimu

Tidurlah Malam

tidurlah malam
sandarkan punggungmu di sini
dari ujung gigil pena
kutuliskan rindu
kehilangan segala
bahagia kuresapkan perih
mengalir ungu tinta
membasahi dekil kertas
mengayun setia jejemari
kauseka hijau peluh
kurawat mimpi penuh daki
kenang mengetuk dari dalam
lemari kayu yang kusam
pandang semakin samar
kubiarkan jemariku mencatat
mata lampu yang pucat
terdengar langkah berat mengetuk lantai
serupa lagu berulang-ulang
sebotol blues di puncak malam
hanya pemurung ini terus menggumam
semua yang hilang
angin tersesat
mengitarinya pelan
ia rasakan pegangan tangan
mengajaknya ikut pulang
cuma berinya ia basah kecupan
pada telunjuk dingin
yang terus menekan
pucatnya pipi

Friday, October 5, 2012

Masih Ada Seberkas Cahaya

masih ada seberkas cahaya
mengendap di sela
lamun yang kusam
samar terhimpit di antara
kemeja lusuh
wangi tembakau tajam

kubuka lembar demi lembar
buku kehidupan
kuhafal aksaranya yang muram
tersengal-sengal aku bernafas
cuma debu terlihat
hanya debu kehilangan

seberkas berbinar
sesekali mengelilingi
sekujur badan
mataku menerawang

mencari jejak
menapaki kembali
ruas-ruas malam

masih ada sisa kerlip
yang sembunyi
tadi malam
di sela jejemari
telapak tangan
hanya ragu kutemukan
hanya sembilu kurasakan
remah ingatan

Agar Kaupahami

agar kaupahami
tak ada cerita kupunya
rimbun aksara kurawat
kupupuk dan kupagar
sebagai rumah sembunyi
dari seringai waktu
memicing meniru mata kucing

dan ceritaku hanya mengenal
wangi dan bunyi
tanpa rupa
warna-warna
bagi gelisah bersemayam
cawan bagi gundah
sebagai buluh perindu
bagi senyum kau
yang pamit pulang
aku cuma tertarik dirimu
ingin kupahami sejenak
dan kuingat sekejap
lekas aku lupakan

Sepah Kembara

kukulum sepah pahit kembara
kaki tergelincir
jatuh di atas onak ingatan
perih di sekujur badan
bulan mengaduh
di sekujur mukanya penuh luka
angin bergemerincing
menusuk malam

aroma sangit cengkih menyesak dada
burung-burung menyisir jalan pulang
udara berat
ujung pena berkilat redup
menjelma pimping dalam angin
udara runcing jam tiga pagi
aksara-aksara ceking membiru
saling pagut
baku pukul
terjerembab
mata lelah
asap dupa mengabut
di langit-langit kamar