kukecup merah tengkukmu
perempuanku
kita acuhkan wajah asing pagi
yang menatap kita dalam-dalam
kita tugal benih mimpi di samping rumah
kusiangi semak sampai terik
dan aku terjaga dari lamunan
kau hidangkan sepiring rebus ketela
kusandarkan berkati penat
di bawah rindang mangga berbuah
kuganti popok bayi di sela
kau sedang hibuk
kubiarkan kau mengutuk
cucian menumpuk
kulantunkan saja dendang asmara
usai hari beranjak turun
seharian kusimpan hangatnya
kunodai di atas tubir tubuhmu
bibir kita kelu
lidah kita sama beku
kita tahu
cinta hanya senyum demi senyum
saling bertemu dan bergegas pulang
tubuhmu hening sewaktu kupeluk
kubiarkan bening pagi menyelinap dini dari desah nafasmu
asap berwarna keruh terlihat luruh
selinting cengkih tersisa ungun abu
betapa gigil jam tiga pagi
sajak ini kembali lahir piatu