sebuah rumah
kubuka pintu
kau masuk
kuberikan separuh diriku
kamulah sepi datang mengetuk
dunia bergetar dalam diriku
ingin kuingat setiap wajahmu
kau rapal namaku
kau ambil seperlunya
dalam diriku
kuambil semua
dalam dirimu
kuberi peluk palsu
ciuman terpejam
kucubit pipimu
berkeping cahaya
merangkum dunia
diriku dan dirimu
sering terlupa di sini
hidup terus bergetar
di luar pintu
kulupakan wajahmu
kaulupakan wajahku
kukunci semua pintu
ingin kusembunyikan
mata kunci
agar kita sama tersesat
dalam wajah sendiri
Monday, October 1, 2012
Sunday, September 30, 2012
Malam Nun
pada malam tergesa-gesa turun
ada jejak sampai mengembun
di sekujur kaca jendela
kubiarkan separuh terbuka
untuk semua kenang
ingin bermalam
ingin berbincang
kubiarkan ia terlelap
dalam dekapan
ingin kutulis tentangnya
sebait cerita
sebaris tenung gelisah
hari-hari silam
meruapkan wangi kekal
di sela buku catatan
di sekujur lusuh seprai
dan mengendap
di bawah bantal
ada jejak sampai mengembun
di sekujur kaca jendela
kubiarkan separuh terbuka
untuk semua kenang
ingin bermalam
ingin berbincang
kubiarkan ia terlelap
dalam dekapan
ingin kutulis tentangnya
sebait cerita
sebaris tenung gelisah
hari-hari silam
meruapkan wangi kekal
di sela buku catatan
di sekujur lusuh seprai
dan mengendap
di bawah bantal
Angkringan
kita gumamkan resah
di pangkuan malam
kita hirup sepatnya
teh melati
dan sembunyikan gigil
dua pagi
bersama ribuan tawa
tanpa tangis memecah
kenang berembun
dalam hati
di riuh malam dunia
sepiring cerita
tiga kepal nasi
biarkan bara tercerai
anglo hampir padam
hangat sisa di matajangan terlepas isak
dan benih-benih mimpi
di pangkuan malam
kita hirup sepatnya
teh melati
dan sembunyikan gigil
dua pagi
bersama ribuan tawa
tanpa tangis memecah
kenang berembun
dalam hati
di riuh malam dunia
sepiring cerita
tiga kepal nasi
biarkan bara tercerai
anglo hampir padam
hangat sisa di matajangan terlepas isak
dan benih-benih mimpi
Etude
ini kali bukan penghabisan bagi sekotak mimpi
dan tak ada yang bersedih selepas dini hari
walau malam selalu membunuh ini lelaki
yang lamunnya pupus tiap berjumpa pagi
dan tak ada yang bersedih selepas dini hari
walau malam selalu membunuh ini lelaki
yang lamunnya pupus tiap berjumpa pagi
Etude
kaukecup keningku
perempuanku
malam berwajah lusuh
dan ini lelaki hampir
terpapar ajal
di pelukanmu
sebaris cahaya berwarna
perunggu
nuruni punggung malam
diam-diam
bikin ini lampu lamur
puisi tersesat
setelah dini hari
angan menggeligi
hening bebukit
angin mengiris pipi
dan resah tergelincir
dari ujung jari
pagi memburu lelaki
bernafas asap cengkih
jangan kau ganggu
ia yang letih itu
sedang melamunkan pagi yang jatuh
perempuanku
malam berwajah lusuh
dan ini lelaki hampir
terpapar ajal
di pelukanmu
sebaris cahaya berwarna
perunggu
nuruni punggung malam
diam-diam
bikin ini lampu lamur
puisi tersesat
setelah dini hari
angan menggeligi
hening bebukit
angin mengiris pipi
dan resah tergelincir
dari ujung jari
pagi memburu lelaki
bernafas asap cengkih
jangan kau ganggu
ia yang letih itu
sedang melamunkan pagi yang jatuh
Tuesday, April 7, 2009
haiku lorenzo blues
aku mencari
rumah dalam sepasang
gelap matamu
sengat membiru
berurat nadi lengan
hijau malamku
pandang demi pandang
sepasang ombak saling berkejar
debur seperti memenuhi rongga dadaku
aku memandang laut
wajah lazuardi seperti memanggilku
mataku bergetar memandang terang matamu
Thursday, April 2, 2009
pukul tiga
pertempuran malam dan pagi
seekor capung mabuk
terbang rendah dalam kepala
segelas kopi hambar
pipi berminyak
asap tembakau melarat jauh
malam yang celaka
mata jatuh tersungkur
dalam kepung cahaya sipit lampu
antara ingin dan enggan
mengingat dan melupakanmu
di seberang pandang
bulan terisak
wajahnya yang teduh
terbayang di kaca jendela
semakin luruh diriku
ingin memandangmu
semakin punah diriku
jika mengecupmu
"Elöi, jangan tinggalkan aku"
Subscribe to:
Posts (Atom)