Friday, October 5, 2012

Sajak Piatu

kukecup merah tengkukmu
perempuanku
kita acuhkan wajah asing pagi
yang menatap kita dalam-dalam

kita tugal benih mimpi di samping rumah
kusiangi semak sampai terik

dan aku terjaga dari lamunan
kau hidangkan sepiring rebus ketela
kusandarkan berkati penat
di bawah rindang mangga berbuah

kuganti popok bayi di sela
kau sedang hibuk
kubiarkan kau mengutuk
cucian menumpuk
kulantunkan saja dendang asmara
usai hari beranjak turun
seharian kusimpan hangatnya
kunodai di atas tubir tubuhmu

bibir kita kelu
lidah kita sama beku
kita tahu
cinta hanya senyum demi senyum
saling bertemu dan bergegas pulang
tubuhmu hening sewaktu kupeluk
kubiarkan bening pagi menyelinap dini dari desah nafasmu

asap berwarna keruh terlihat luruh
selinting cengkih tersisa ungun abu
betapa gigil jam tiga pagi
sajak ini kembali lahir piatu

Makam Puisi

sebab dalam kembaraku
suara sayup memanggil
seperti dendang lirih
menjelma bisik angin
mengiang jadi bunyi
orang-orang meratapi
tanah merah dan humus tua
pupur putih kayu lapuk
atap melegam jejak cuaca
usia bersemayam
dalam segala benda

kumakamkan puisi di sini
di sekujur garis
kerut lengan
kehidupan kehilangan
linting nikotin
Blues dan Parfum
yang mengendap
di garis kerah baju
kuhapus peluh
yang sabu
kucintaimu dalam hati
pengabar jiwa letih

kukulum perih cambuk waktu
iseng kujadikannya
sebait lagu

Malam Telanjang

maut seperti nakhoda
tegak di buritan
dengan lantang berkata
lekas kayuh dayung
tujukan sampan
ke tubir ufuk saja
hanya lamun terambing
di samping lambung
ganas ombak menyeret
sampan usia

tubuhku gering dalam dekap
langit muram
sinar bulan membayang
seraut pasi dalam temaram
telah kubakar kayu dayung
sebagai bara pendiangan
kubiarkan angin gigil
menggigit kulit
yang terbakar

muka berjelaga seharian terjaga
kuisengi maut yang sendiri
kubiarkan mulut merapal bunyi
lidah gagal bernyanyi
sebaris aksara tersuruk
malam telanjang

Etude

sewaktu diam rebah
kutulis berbait gelisah
penawar hening beracun
bahagia terhampar
dan keluh terpiuh
istirah malam terbengkalai

kulinting cengkih
kupendam lagu
kujadikan asap sebagai sayap
lamun surut melangkah
ungun abu tumpah
di atas lusuh seprai

Etude

pukul dua
pertempuran malam dan pagi
seekor capung mabuk
terbang rendah dalam kepala
pipi berminyak
asap cengkih melarat jauh

mata jatuh tersungkur
dalam kepung sipit lampu
antara ingin dan enggan
mengingat lalu melupakanmu
bulan berwajah pasi terbayang
di kaca jendelamengecup keningku

Monday, October 1, 2012

ziarah

daun-daun gugur
angin membantun
mataku keruh
pohon-pohon meranggas
di musim kering
awan pagi menuduhkan
langit berwarna lebam
menumpahkan seikat
biru mimpi

sepotong warna tumpah
menggayuti pandang
gemetar ini kaki
jika sesat melangkah
mengabaikan kartu nasib
memburu kembara karib
pantai-pantai mengajak singgah
kususuri jejak kepiting merah
segera kubentangkan layar

kukayuh angan
menuju samudra gaib
mencari asal maut
mengukur dalam laut
yang menggumam padaku
kubiarkan lamun terhanyut
tak juga jumpai dermaga
tak terlihat lampu suar
hanya bintang jatuh

Lamanwajah

sebuah rumah
kubuka pintu
kau masuk
kuberikan separuh diriku
kamulah sepi datang mengetuk
dunia bergetar dalam diriku
ingin kuingat setiap wajahmu

kau rapal namaku
kau ambil seperlunya
dalam diriku
kuambil semua
dalam dirimu
kuberi peluk palsu
ciuman terpejam
kucubit pipimu

berkeping cahaya
merangkum dunia
diriku dan dirimu
sering terlupa di sini
hidup terus bergetar
di luar pintu

kulupakan wajahmu
kaulupakan wajahku
kukunci semua pintu
ingin kusembunyikan
mata kunci
agar kita sama tersesat
dalam wajah sendiri